PERPUSTAKAAN, RUANG RINDU?
RIA INDRA MAYA SARI, S.Pd
Kata rindu lebih sering diidentikkan dengan hubungan antara dua manusia, lelaki dan perempuan yang saling diliput asmara. Sebetulnya subjek dan objek yang bermain dalam rindu boleh tidak melulu antara seseorang dengan orang lain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rindu berarti sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Seperti dalam kata,”Fina merindukan hujan” nampak disini Fina sangat menginginkan agar awan meneteskan air hujan, Fina sangat berharap sekali jika hujan segera turun.
Apa yang dirindukan siswa pada sekolahnya? Apakah pada guru – guru, mata pelajaran, suasana sekolah, taman sekolah, kantin sekolah, atau teman – teman di sekolah? Para siswa mungkin saja rindu pada bapak dan ibu guru yang dengan tulus menyambut mereka setiap pagi. Mereka mungkin rindu pada mata pelajaran yang mereka sukai. Siswa yang suka berhitung merindukan matematika, fisika, atau kimia. Siswa yang suka cerpen, puisi, dan novel merindukan mapel Bahasa Indonesia. Sekolah pada dasarnya memang layak menjadi ruang dan waktu untuk selalu dirindukan.
Jika suatu saat para siswa yang telah menjadi alumni itu kembali ke sekolah, mereka akan mengenang masa – masa bersekolahnya dulu dan menyadari betapa ilmu – ilmu yang telah diberikan oleh para guru itu begitu penting bagi kehidupan mereka sekarang, jika tmemang demikian bisa dikatakan para guru telah berhasil membuat mereka rindu pada hal yang memang sudah seharusnya selalu dirindukan, yaitu ilmu pengetahuan.
Bangsa – bangsa di dunia ini bisa memiliki peradaban yang maju karena ilmu pengetahuan. Tak mengherankan jika Imam Al Ghazali menempatkan ilmu sebagai bagian pertama dari magnum opusnya, Ihya’ ‘Ulumuddin. Seratus tahun dari usaha Sang Imam, muncul tokoh negarawan besar yang kita kenal dengan Shalahudin (Saladin). Ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dari riset lalu mereka tulis dalam lembaran – lembaran buku atau buku – buku yang telah ditulis ilmuwan – ilmuwan sebelumnya mendapat tempat dan penghormatannya pada saat itu. Saladin jelas menjadi prototype hasil bimbingan keras seorang ilmuwan besar. Rasa – rasanya tak ada yang tak terpukau terhadap sikap Shalahudin kepada penduduk minoritas.
Ilmu dan buku semestinya berjalan seiring sejalan seperti dua sejoli yang tak terpisahkan. Di mana buku mendapat tempat yang layak di situ akan terbit pelita ilmu yang gemilang. Orang – orang yang bengis dengan mengedepankan nafsunya agaknya akan kesulitan bergumul dengan buku. Kita tahu betapa mengerikannya tindakan bar – bar suku Mongol hingga menjadikan Baghdad menjadi lautan tinta saking banyaknya buku yang dihancurkan oleh kebengisan bar – bar itu.
Nafsu akan benda – benda keduniaan kita kenal dengan gaya hidup hedon.
Cerpen Leila S. Chudori bertajuk Adila yang bertitimangsa 10 Juni 1989 makin menggambarkan tak harmonisnya orang bergaya hidup hedon dengan buku. Adila seorang gadis pecinta buku, sayangnya bernasib malang. Kecintaannya pada buku terlihat ketika Adila bertanya kepada ayahnya,”Ada yang baru, Ayah?” Lalu ayahnya memberi sebuah buku baru berjudul Summerhill. Sayang, ibunya yang seorang wanita karir itu gagal melihat potensi anaknya, Adila. Ibunya bahkan merobek buku baru Adila, membelahnya menjadi dua dan mencemplungkannya ke tempat sampah, hanya karena Adila bertanya tentang sesuatu yang tabu (perihal seks) kepada orang tuanya. Pada akhir cerpen selanjutnya kita tahu, Ibu Adila lebih sibuk menanyakan perihal pakaian dalam dan rias – rias miliknya yang berharga ratusan dollar ketimbang kehilangan anaknya sendiri. Ya, pakain dalam dan alat rias mahal itu dipakai Adila sebelum dia akhirnya bunuh diri menenggak cairan obat nyamuk.
Ilmu pengetahuan memang tak bisa lepas dari dua hal, guru dan buku. Dan sekolah menyediakan keduanya. Sekolah mungkin dapat dengan mudah mempunyai guru pintar, cerdas, pandai. Tapi, guru yang peduli agaknya jauh lebih “mahal”, tak terkecuali peduli pada buku. Bagaimana jadinya jika guru lupa peduli kepada buku?
Sekolah menyediakan buku – buku, deretannya terpajang rapi di perpustakaan sekolah. Tapi tegakah jika buku – buku itu tak pernah tersentuh? Jika tersentuh saja tidak apalagi terbaca? Jika kita sepakat ilmu pengetahuan adalah kerinduan. Maka guru adalah sosok yang dirindu dan perpustakaan sekolah adalah ruang rindu. Namun agaknya perpustakaan sekolah (dan perpustakaan pada umumnya) belakangan lebih sering jadi lakon patah hati. Bukan jari jemari yang menyentuh buku – buku di dalamnya atau mata yang berasyik masyuk menari – nari dalam aktivitas membaca di perpustakaan, tapi debu yang tampak menempel di sudut – sudut ruang perpustakaan.
Dengan apik Muhajir M.A menggambarkan kondisi perpustakaan sekarang ini, dalam puisinya berjudul Perpustakaan yang bertanggal 3 April 2017, berikut beberapa barisnya:
Cahaya hanya tahu tentang terang,
dan celah yang mesti disinggahi
Lalu di perpustakaan itu, sang cahaya
memilih retakan kaca jendela,
menyinari buku – buku.
Mereka berdebu, mereka tak hidup,
kecuali ‘Seratus Tahun Kesunyian’
yang hinggap di pojok
Jika buku – buku tak terbaca, kegelapan akan datang, kemajuan peradaban yang terang benderang akan sirna seperti kata Muhajir, seratus tahun kesunyian.
Salah satu sebab buku sebagai pengikat ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan peradaban yang berkemajuan adalah karena dengan buku, dapat menggelorakan semangat akan kejayaan – kejayaan sebuah bangsa di masa lampau. Seperti kata Muhajir dalam baris berikutnya //;buku itu oleh kita adalah lembaran – lembaran ingatan.// kita patut mengingat hegemoni Majapahit dalam kakawin Negarakertagama, kita pantas mengingat kegigihan Pangeran Diponegoro dalam Babad Diponegoro.
Zaman makin bersolek, perpustakaan sekolah tak lupa bersolek. Pendingin ruangan, karpet duduk berbahan bludru, atau kursi – kursi serta meja layaknya kafe pun disediakan perpustakaan sekolah. Tapi buku tetap terasingkan. Tersingkir oleh wifi juga game online. Peraturan perpustakaan sekolah mestilah menuruti zaman, jangan melulu cuma “dilarang makan di dalam perpustakaan” atau “dilarang membawa makanan ke dalam perpustakaan” boleh kita tulis “dilarang bermain game online di perpustakaan” atau juga “dilarang menggunakan wifi bukan untuk kepentingan belajar”
Namun harapan agar perpustakaan sekolah benar – benar menjadi ruang rindu tak boleh lekang, berharap suatu ketika akan ada banyak siswa yang berkenan mampir. Mereka layak disebut malaikat penyelamat literasi seperti baris kalimat berikutnya dalam puisi perpustakaan //.....Suatu ketakmampuanku untuk mengakui jika ia seorang malaikat.”// Jika perpustakaan sekolah adalah ruang rindu, candunya berupa buku, peraciknya kita sebut guru. Berpadu.
Januari 2019
Komentar
Posting Komentar