Awal

                      Benih rasa
Singsing sinar fajar dari ufuk timur telah menyambut dunia. Merasuk ke celah-celah asaku menjalani segudang aktivitas. Terbangun kala adzan berkumandang diiringi penuh doa dan rasa syukur yang tak terkira. Penuh rasa optimis untuk menjadi manusia yang mampu mengabdi untuk negara, berbakti kepada orang tua dan berguna untuk agama. Aku bergegas menyiapkan segala sesuatunya dengan sesekali menatap benda melingkar penuh angka 1-12 yang selalu setia ditemani 3 jarum detik, menit dan jam. Kala aku lihat masa telah menunjukkan angka 06.15, maka disitulah aku siap dengan sahabat setiaku, yang selalu kuajak kemana-mana, mengantarkan setiap langkahku sampai pada tujuanku. Mulai ku tancapkan kunci yang membuat ia bernyanyi ngeng-ngeng dan sesekali pim-pim sebagai tanda disekitar yang ada. Serbuan angin menimpa diriku, meski sudah ada pelindung diri sehelai kain hangat dan benda yang melingkar menutup kepala, rasanya masih saja serbuan angin tak mau kalah, ia mampu aku rasakan. Memang tak terlupakan, bagaimana bisa hampir setiap hari aku melaluinya. Melewati jalan yang amat panjang dan berkelok , dengan disuguhi pemandangan yang tak terkira indahnya, warna hijau yang terbentang sampai batas aku memandang dengan genangan air di bawah warna hijau. Mulai dari tahap rumah mereka dibajak, diairi, ditanami sampai aku melihat wajah mereka semua menunduk penuh suka.... (Bersambung....)

Komentar